Khansa, Ibun Sayang

Nelangsa? Entahlah. Terngiang-ngiang perkataan suami, “Kita ngga tau apa rasa cinta anak akan sebesar rasa cinta kita padanya.”

Tawanya pada mimik muka yang tak lucu dan malah cenderung… Aneh? Jari-jari mungilnya yang mencengkram bibir saya, menjambak rambut, atau bau masam kotorannya, tangisnya saat kelaparan, mulutnya yang mengatup rapat saat makanan hendak dimasukkan, atau lidahnya yang menjilat-jilat benda lainnya. Ia sedang bertumbuh, suatu saat ia akan bisa mengurus dirinya sendiri.

Pantaslah untaian doa itu, sayangilah kedua orang tuaku seperti mereka menyayangiku di waktu kecil. Karena rasa sayang pada bayi mungil itu cenderung melimpah ruah dari dada, walaupun kesal karena lelah, walaupun lelah karena tak cukup tidur, tapi tetap sayang. Dan kasihan.

Khansa, Ibun sayang Khansa. Ibun ingin Khansa melihat Ibun sebagai sosok yang dapat Khansa jadikan teladan yang baik, Ibun dan Ayah pasti bukanlah orang tua yang sempurna, tapi kami ingin menjadi buah bibir yang menyenangkan bagi Khansa.

Khansa, Ibun dan Ayah sayang.

Khansa, sayangi Ibun dan Ayah juga ya?

Advertisements

Sosmed, Oh, Sosmed

“Da, gapapa kan kalo Ovi delete akun?”

“Ya gapapa lah. Justru bikin lebih tenang.”

Iya, prasangka itu membuat lelah. Ekspektasi juga. Atau kenangan yang membuat orang salah mengira. Setiap kita toh sama aja kan? Ingin menjadi baik, ingin terlihat baik. Salah satu caranya ya self-branding berbalut humble-bragging. Ini loh yang selama ini saya lakukan, haha. But it’s ok. Walau seringnya yang dilakukan hanya sekedar ingin membagikan kebahagiaan yang sedang meluap. Dan ini gak bermaksud melabeli siapapun loh. Pun saya sekarang ngga ngajakin siapapun untuk melakukan apapun. Hanya ingin punya kehidupan yang lebih tenang dengan mengurangi prasangka dan berlelah-lelah menjadi people-pleasure. Maksudnya bukan ga boleh loh ya berusaha menyenangkan setiap orang. Tapi yang paling penting itu kan ketulusan dalam melakukannya. Ya ngga?

Gitu amat sih, Vi.

Iya, emang gitu. Ga masalah kan? 🙂

Pun tulisan hanya sekedar tulisan. Sama aja tuh kaya foto. Sesuatu yang satu arah lebih banyak menimbulkan pertanyaan sih. Jadi, ayo ngobrol dan mengungkapkan isi hati dengan lebih luwes!

Berikut tulisan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim.

Tersakiti Walau Tak Disakiti

Salah satu pintu kebahagiaan adalah turut berbahagia ketika melihat muslimin lainnya mendapatkan nikmat. Bukan berharap pemberiannya, bukan pula ucapan terima kasihnya. Tetapi mengetahui orang lain memperoleh nikmat pun, hati ini turut bersyukur

Sebaliknya, kita turut merasakan duka ketika muslimin lainnya ditimpa kedukaan. Kita berempati kepadanya, sehingga dengan itu justru hati kita akan semakin merasai kelembutan. Ia peduli tanpa menuntut kepedulian orang lain terlebih dahulu. Jika ia memberitahukan kepada orang lain, itu lebih karena ingin mengajak sesama muslim untuk melakukan amal shalih

Adakalanya ia berusaha memahami apa yang salah, mencoba meluruskannya, tetapi bukan mencari-cari kesalahan. Memahami kesalahan adalah cara untuk mencegah berulangnya masalah yang sama sekaligus menemukan jalan untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi

Di antara sebab derita adalah sibuk menghitung nikmat orang lain dan merasa perih karena tak mendapatkan nikmat serupa. Ada pula orang yang sibuk menebak-nebak apa yang diperoleh orang lain; ia mempercayai betul persangkaannya, melebihi kepercayaannya terhadap informasi. Ia sibuk mempersoalkan orang lain yang tak berbagi nikmat kepadanya, lupa dengan nikmat berlimpah yang mengguyuri kehidupannya

Benarlah nasehat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Dan apa yang beliau sampaikan memang sungguh-sungguh sebaik-baik petunjuk. Beliau bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya itu bukanlah karena banyak harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati (merasa cukup dan puas).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang kaya merasa tenteram. Ia tak risau melihat kekayaan orang lain yang tampak berlimpah, tak pula meninggikan diri di hadapan yang terlihat tak berpunya. Sebab takaran kemuliaan bukan pada seberapa banyak yang ia punya, tetapi seberapa baik taqwa dalam dirinya. Maka beruntunglah orang yang kaya hati. Ia temukan ketenteraman karena senantiasa merasa cukup, bahkan saat orang lain merasa kasihan kepadanya

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ, ورُزِقَ كَفَافًا, وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberikan oleh Allah sikap qana’ah (rasa cukup) terhadap pemberian-Nya” (HR. Tirmidzi).

Merasa cukup (qana’ah) juga menjadi jalan yang mendekatkan kepada keselamatan. Dengannya ia tidak kufur terhadap nikmat Allah. Ia pun lebih mudah bersyukur. Ini semua lebih menjaganya dari jalan yang haram

Tetapi begitu tak ada qana’ah pada diri seseorang, bahkan justru bukan hanya tamak, ia pun memiliki ghil (tidak sreg, tak suka melihat orang lain memperoleh nikmat), maka ia mudah sakit hati. Ia merasa perih ketika mengetahui orang lain mendapatkan nikmat, sementara ia tak kebagian nikmat itu. Ia tersakiti walau tak ada yang menyakitinya.

Anak, Sebuah Pengingat

Anak itu hanya titipan dari Allah, dan ia juga merupakan ujian. Bagi sebagian dari kita, ia adalah ujian yang indah pada pandangan.

Bagaimanapun proses melahirkan yang dilalui, dengan ataupun tanpa intervensi, anak haruslah menjadi rasa syukur. Berlelah-lelah membesarkan, semoga nikmat saat menjalani.

Kita memohon pada Allah agar Ia anugerahkan setiap kita anak keturunan yang shalih dan shalihah.

Agar Allah tuntun setiap kita sebagai teladan bagi mereka, yang dapat membawa anak-anak kita kelak pada jalan-jalan yang Allah ridhoi.

Agar Allah sayangi setiap anak keturunan kita, sebagaimana kita menyayangi mereka di waktu mereka kecil.

Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Dikutip dari muslim.or.id sebagai berikut :

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata : “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata : “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al Fajr : 15-16)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’ala berfirman mengingkari keyakinan (sebagian) manusia. (Maksud ayat ini) bahwasanya jika Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya adalah untuk menguji mereka dengan rezeki tersebut. Sebagian orang meyakini bahwa rezeki dari Allah merupakan bentuk pemuliaan terhadap mereka. Namun yang benar bukanlah demikian, bahkan rezeki tersebut merupakan ujian dan cobaan untuk mereka sebagaimana firman Allah :

 نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun : 55-56)

Demikian pula sebaliknya. Jika Allah memberinya cobaan dan mengujinya dengan menyempitkan rezekinya, sebagian orang menyangka Allah sedang menghinakannya. Maka Allah katakan : { كَلا } (sekali-kali tidak). Yang dimaksud bukanlah seperti persangkaan mereka. Allah memberikan harta kepada orang yang Allah cintai dan kepada orang yang tidak Allah cintai. Allah juga menyempitkan harta terhadap orang yang Allah cintai maupun orang yang tidak dicintai-Nya. Sesungguhnya semuanya bersumber pada ketaatan kepada Allah pada dua kondisi tersebut (baik ketika mendapat rezeki yang luas maupun rezeki yang sempit). Jika seseorang kaya (mendapat banyak rezeki harta) dia bersyukur kepada Allah dengan pemberian tersebut, dan jika miskin (sempit rezeki) dia bersabar.” (Tafsiru al Quran al ‘Adzim, Imam Ibnu Katsir rahimahullah)

Sumber: https://muslim.or.id/7401-memahami-dua-jenis-rezeki.html

9 – Bunda Sebagai Agen Perubahan

Matrikulasi Materi #9 : “Bunda Sebagai Agen Perubahan”

🙋BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN🙋

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Continue reading “9 – Bunda Sebagai Agen Perubahan”

Review NHW #8

Review NHW #8
Matrikulasi Ibu Profesional Batch #4

MISI HIDUP dan PRODUKTIVITAS

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengerjakan NHW#8 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan PR dan ada yang memang bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya “ROAD MAP” dalam kuliah kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya. Continue reading “Review NHW #8”